
Kadang hal ini memang menyebalkan.
Bagaimana dengan susah payah, kita membangun asa kita, menyusunnya, dan meninggikannya seakan-akan hampir menyentuh langit. Namun, akhirnya kenyataanlah yang merubuhkannya, menghabiskannya, dan meratakannya hingga tak tersisa. Meninggalkan kita sendiri dengan serpihan-serpihan asa dan harapan yang telah luruh dengan tanah.
Lalu, dengan seperti itu, apakah kita harus menyerah?
***
Well, beberapa hari ini, hidupku berjalan diluar rencana-rencana “sempurna”-ku, atau mungkin lebih pantas disebut rencana-rencana “tidak sempurna”. Apa yang udah aku usahakan, aku atur, dan telah ku tata seindah mungkin, gak berhasil menjadi nyata. Mulai dari kerjaan, hubungan percintaan, dan hal-hal lain yang masih berkaitan. Hal ini membuat ku sempat merasa jatuh. Benar-benar jatuh.
Bukan karena ketidak mampuan ku dalam menerima kenyataan. Tetapi, karena saat ini, keadaan menghimpit dan menyudutkan aku.
Ya, untuk masalah kali ini, datangnya bertubi-tubi. Seperti serangan peluru dari AK-47 yang seakan-akan hampir mustahil bagiku untuk bergerak, mengelak, apalagi melawannya. Masalah yang menyangkut tanggung jawabku. Tanggung jawab terhadap masa depanku (karir), dan tanggung jawabku sebagai anak laki-laki paling besar di keluarga. It’s too personal for me to share it here. Tapi percayalah, masalah ini hampir membuat otak ku kering karena terus menerus dipaksa untuk berpikir.
Aku sudah melakukan semua hal yang mungkin dan mampu ku lakukan. Aku sudah mengusahakan semua hal yang mungkin dan mampu ku usahakan. Aku sudah melakukan yang terbaik untuk mengatasi dan menyelesaikan masalah-masalah yg senantiasa datang silih berganti. Tetapi, seperti yang ku katakan tadi, hidup tak selalu sesuai dengan apa yang kita harapkan. Dan jujur, keadaan ini sempat membuat ku rapuh, lelah, dan sibuk. Saking sibuknya hingga akhir-akhir ini aku tak sempet tertawa. Aku tak sempet merasa bahagia.
Namun, aku sadar akan satu hal, bahwa sesungguhnya "kebahagiaan tidak tergantung pada bagaimana keadaan memperlakukan kita, tetapi, bagaimana kita memperlakukan keadaan". Ya, aku udah ngelakuin kesalahan dengan membiarkan keadaan mendikteku seperti ini. Gak ada gunanya cuma meratapi kegagalan dan keadaan, apalagi menunggu datangnya keajaiban. Aku harus move on. Karena seperti kata Mario Teguh :
“Janganlah menunggu keajaiban, tetapi ciptakanlah keajaiban bagi dirimu sendiri.”
Di sisi lain, aku juga melakukan kesalahan lain. Aku terlalu angkuh untuk mengakui bahwa saat ini aku memang lemah, saat ini aku memang tidak cukup kuat. Sehingga, setelah menyadari semua kesalahan-kesalahanku.. sekarang, aku harus jadi lebih kuat. Agar, aku pantas untuk bertahan... Agar aku pantas untuk bahagia.
Dan dengan seperti itu, setelah semua usaha, rencana, dan harapanku gagal, apakah aku akan menyerah?
Maaf, aku tetap tidak akan menyerah, sampai kapanpun!!
Aku akan terus berlari "MENGEJAR KESEMPURNAAN" yang selama ini ku cari!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar